Tennis Forum banner

1 - 20 of 24 Posts

·
Team WTAworld, Senior Member
Joined
·
5,566 Posts
Discussion Starter #2
Order of play

Court 2 : (3) Korea vs. (2) Japan
Court 3 : (1) Indonesia vs. (4) China


Winners will proceed to the World Group Play Offs in July 2002.
 

·
Registered
Joined
·
11,901 Posts
I don't get it. :(

Both Korea and Japan lost.

I don't understand why they're playing each other for a spot at the play-offs.

Shouldn't it be losers vs winners?

This certainly is strange...
 

·
Team WTAworld, Senior Member
Joined
·
5,566 Posts
Discussion Starter #4
I agree it does not seem very logical, but it is information currently available. I think that M-Web is mentioning some information about these play-offs. Could someone give a hint with some translation :confused: . Thanks in advance.

Indonesia Dan Cina Berebut Tiket Grup Dunia Piala Fed

Jakarta, 8/3 (ANTARA) - Tim tenis putri Indonesia akan menghadapi tuan rumah Cina pada pertandingan terakhir Piala Fed Grup I Zona Asia Oceania di Guangzhou Cina Sabtu (9/3), untuk memperebutkan tiket ke babak play-off Grup Dunia.

Pada pertandingan terakhir di pool A Jumat, Indonesia mengalahkan Korea Selatan 2-1 namun pertandingan tersebut tidak berpengaruh sama sekali.

Informasi yang didapat dari Hanita Erwin, ibu Angelique Widjaja, yang turut menyaksikan pertandingan itu di Guangzhou, China, menyebutkan, sebelum pertandingan ada pertemuan teknik yang diikuti wakil negara yang akan bertanding.

Dari pertemuan itu menurut Hanita diputuskan bahwa untuk menentukan dua tim yang berhak ke play-off Grup Dunia, maka unggulan pertama pada kejuaraan itu harus bertanding dengan unggulan empat, sedangkan unggulan kedua melawan unggulan tiga.

Menurut Hanita, aturan tersebut dibuat karena empat tim yang akan memperebutkan juara dan runner-up pool A dan B pada pertandingan Jumat ini, semuanya adalah tim-tim empat unggulan teratas.

Unggulan pertama adalah Indonesia, diikuti Jepang unggulan kedua, Korea Selatan unggulan tiga, dan tuan rumah China unggulan empat.

Aturan tersebut berbeda dengan aturan sebelumnya, yang mana dua tiket ke play-off Grup Dunia akan ditentukan melalui pertandingan silang antara juara dan runner-up masing-masing pool.

Dengan demikian pada pertandingan yang sangat menentukan Sabtu (9/3), Indonesia akan menghadapi China, sementara Jepang akan melawan Korea Selatan.

Kemenangan Indonesia atas Korea Selatan pada pertandingan Jumat diantar oleh Angelique Widjaja dan Wynne Prakusya.

Angelique Widjaja membuka kemenangan Indonesia dengan mengalahkan Kim Mi-Ok 6-2, 6-2, kemudian Wynne memastikan kemenangan setelah menundukan Chung Yang-Jin 6-4, 6-2.

Pada partai terakhir yang tidak menentukan lagi, Indonesia yang menurunkan pasangan Wukirasih Sawondari dan Diana Julianto menelan kekalahan dari pasangan Korsel Jeong Cho Yoon dan Jeon Mi-Ra 1-6, 4-6. (T.I015/B/A008) 8/03/:2 19:14
 

·
Registered
Joined
·
484 Posts
Refer to M-Web Sport. It said about determining 2 teams processed to World Group. Its not pool winner versus runner up, but based on seeding. 1st seed (INA) will face 4th seed (CHN), and 2nd seed (JPN) vs 3rd (KOR). This changes taken after technical meeting of 4 teams, and caused all semifinalist are seeded player. So, the matchs are INA vs CHN and JPN vs KOR.
 

·
Team WTAworld, Senior Member
Joined
·
5,566 Posts
Discussion Starter #7
Saturday results

KOREA vs JAPAN
Rika FUJIWARA d. Mi-Ra JEON 64 62
Saori OBATA d. Yoon-Jeong CHO 64 57 62
Akiko MORIGAMI / Yuka YOSHIDA d. Mi-Ra JEON / Mi-Ok KIM 16 64 63

JPN : 3-0

INDONESIA vs CHINA
Jie ZHENG d. Angelique WIDJAJA 64 62
Na LI d. Wynne PRAKUSYA 46 60 62
Wynne PRAKUSYA / Angelique WIDJAJA d. Na LI / Ting LI 43(Ret)

CHN : 2-1


I hope there's nothing serious for LI Na or LI Ting.

Extremely good performance from Jie. Good selection from the Chinese captain.

Not too bad performance from Wynne, given Na's talent.
 

·
Team WTAworld, Senior Member
Joined
·
5,566 Posts
Discussion Starter #8
Final Results

Teams proceed to World Group Qualifying in July 2002:

China
Japan


Teams relegated to Group II in 2003:

India
Philippines


Teams promoted to Group I in 2003:

Kazakhstan
Malaysia
 

·
Registered
Joined
·
3,050 Posts
Congrats:bounce: :bounce: :bounce:

Japan: wow, i didn't expect before that u can do it, won Korea so easily, good luck in world group:hearts: :hearts: :hearts:

China: perfect result:rolleyes: :rolleyes: :rolleyes:
 

·
Team WTAworld, Senior Member
Joined
·
5,566 Posts
Discussion Starter #11
ThePonos said:
Badluck Indonesian Team. "Indonesia team prefer face Japan rather than China", official said.
I think so too Toto. China was unstoppable this year and I don't see any team who would have liked to meet them.

I would really like to find out more on how the decision to change the matches had been taken :rolleyes: . I believe Indonesia would have had a chance against Japan.

The decision favoured Japan in the end at the expenses of Indonesia (I don't think Korea could have made it, no matter what).
 

·
Registered
Joined
·
11,901 Posts
Congrats to Japan and China. :D
Thanks for explaining Toto, but I still it's unfair that the "losing teams" from yesterday were awarded to play each other. I definitely think Indonesia should have played Japan today. But nothing can be changed now.

Bad luck to Korea and Indonesia. :sad:

The play-offs in July should be interesting... ;)
 

·
Registered
Joined
·
1,381 Posts
well done japan and china! :kiss: :kiss:

but bad luck Korea and Indonesia!

and sad that philippines has been relegated again! :sad: but they do belong in group 2... unfortunately! :(
 

·
Team WTAworld, Senior Member
Joined
·
5,566 Posts
Discussion Starter #15
Thanks for the link bluepastures :D . Have you tried the link to LI Na biography (from the article on the victory over THailand) :confused: ? It is sending to LI na the diver :eek: .
 

·
Registered
Joined
·
3,953 Posts
China are really in form. :)
Congrats also to Japan.... they have a more solid team then Korea with good doubles players and experienced singles players.... all ranked in the top 200.

Zheng has really impressed me this week.
The Chinese girls are really all quality players! their performences this week does not reflect their ranking!
 

·
Team WTAworld, Senior Member
Joined
·
5,566 Posts
Discussion Starter #17
I got eventually the news. LI Na had to withdraw during the doubles match due to some pulled muscle. It is however not too serious and she'll be in shape again very soon to kick some more b... :D
 

·
Team WTAworld, Senior Member
Joined
·
5,566 Posts
Discussion Starter #19
MWeb Sports

There are very long comments about Indonesia performance against China in MWeb Sports :eek: .

Could someone post on the key points from the article and the tone of this article (positive, negative, hot, tempered...) :confused: ?

11 Mar 02 06:45 WIBFed Cup: Kegagalan Jangan Terulang Lagi (bagian 1)

Sport-MWeb - TIM Piala Federasi (Fed Cup) Indonesia, yang menempati unggulan pertama tersandung di langkah terakhir dan gagal melaju ke playoff grup dunia. Tuan rumah Cina menghempaskan harapan Wynne Prakusya dan kawan-kawan. Apa yang bisa dipetik dari kegagalan ini?
Di atas kertas, seharusnyalah Indonesia menjadi salah satu tim yang lolos dari babak kualifikasi Grup I Zona Asia-Oceania di Guangzhou, Cina. Dengan menempati unggulan pertama dan dengan materi pemain yang notabene adalah bintang di kawasan Asia, tak ada alasan untuk pulang dengan muka muram.
Namun - meminjam celetukan rekan - pertandingan tenis tersebut bukan berlangsung di atas kertas, melainkan di atas lapangan dan lengkap dengan segala aspeknya (fisik, teknik, dan non-teknis).
Terbukti, meski Merah Putih menempati ungulan pertama, toh Wynne dan kawan-kawan gagal memenuhi "standar keharusan lolos" tersebut.
Artinya, tim yang terdiri dari Wynne, Angelique Widjaja, Wukirasih Sawondari dan Diana Julianto harus berkutat kembali di Grup I dan baru punya kesempatan untuk mencoba lagi tahun depan (jika formasi tim tidak berubah).
Meski dari awal Indonesia tampak perkasa, dengan membabat India 3-0, mengalahkan Cina Taipei 2-1, menggunduli Selandia Baru 3-0, dan bahkan menang atas Korea 2-1. Namun semua itu bisa dikatakan "tidak ada artinya" untuk ukuran prestasi, karena faktanya, mereka gagal di penentuan.
Saya yakin, tidak hanya Pimpro Fed Cup Martina Widjaja, atau kapten tak bermain Suzanna Anggarkusuma beserta seluruh anggota tim yang kecewa dengan hasil ini. Bahkan tak satu pun masyarakat tenis yang tidak menyayangkan hasil ini.
Ungkapan, "Inilah hasil terbaik yang bisa diraih", lebih sebagai sebuah ungkapan lain dari kekecewaan yang harus diakhiri dengan sebuah kepasrahan atas "kehendak Tuhan".
***
MENYALAHKAN tim (apalagi menyalahkan pemain), bukanlah sikap yang tepat. Bagaimana pun Suzanna (non-playing captain), Wynne, Angie, Wukir dan Diana tampil di Guangzhou memiliki tekad yang sama. Ingin menang!
Juga Martina Widjaja, selaku Pimpro Fed Cup, sudah pasti juga sudah susah payah mempersiapkan tim ini dengan segala upaya, khususnya pendanaan (karena konon Pelti memang kesulitan dana-red).
Yang penting adalah bagaimana tindaklanjut PB Pelti setelah menelan kegagalan mengulang sukses tahun lalu, ketika tim yang bermaterikan Yayuk Basuki, Wynne Prakusya, Romana Tedjakusuma dan Wukirasih Sawondari berhasil lolos, walau akhirnya kalah dari Austria.
Tak lain adalah melakukan evaluasi, yang bukan sekadar mencari pembenaran, bahwa Indonesia kalah dari Cina karena sebagai secara moril Na Li dan kawan-kawan mendapat dukungan penonton sebagai tuan rumah.
Namun lebih dari itu, evaluasi menyeluruh pemain yang berkaitan dengan masalah teknis maupun non teknis secara rinci dan ilmiah. Bagaimana fisik pemain, dan rincian kemampuan secara teknis yang rinci, dari penguasaan lapangan, bola, strategi, permainan dan penampilan dalam pertandingan, semua harus dikupas tuntas.
Persiapan tim (yang sempat diwarnai pemberitaan "miring" dengan masuknya Diana Julianto) juga harus menjadi salah satu bahan evaluasi bagi PB Pelti. Bahwa PB Pelti perlu menetapkan "kriteria-kriteria baku" bagi pemain yang akan dipilih menjadi anggota tim Fed Cup, sekaligus untuk kegiatan multi, seperti SEA Games dan Asian Games.
Meski setiap aturan tidak mungkin menyenangkan semua pihak, namun PB Pelti harus membuat aturan yang sesedikit mungkin memunculkan masalah. Kalau pun Martina Widjaja sudah mengemukakan, bahwa PB Pelti sudah membenahi dan menentukan syarat-syarat tersebut, namun fakta yang adalah banyaknya komentar yang juga miring diterima insan tenis sendiri.
Berbagai kemungkinan bisa terjadi, namun jika aturan itu telah dibuat, maka pendelegasian aturan tersebut tidak maksimal, karena tidak semua insan tenis mengerti hal ini. Komunikasi yang timpang ini jelas menjadi tanggungjawab Tanri Abeng, selaku Ketua Umum PB Pelti. (Amin Pujanto,-- ).

11 Mar 02 14:04 WIBFed Cup: Kegagalan Jangan Terulang Lagi (bagian 2-habis)

Sport-MWeb - SETELAH melakukan evaluasi, sebagaimana pada tulisan "Fed Cup:Kegagalan Jangan Terulang Lagi" bagian 1, langkah selanjutnya yang (mungkin) tepat adalah menggalang dukungan. Dukungan dari mana dan dalam bentuk apakah?
Sudah barang tentu dukungan dari masyarakat tenis, masyarakat olahraga, dan lebih luas lagi dari masyarakat Indonesia. Sedangkan "bentuk" dukungan juga tidak melulu hanya mengharap materi, namun dukungan moril juga memberi arti yang tidak sedikit.
Mengoptimalkan yang dimiliki insan tenis Indonesia bisa menjadi langkah awal yang bagus dalam upaya mencari dukungan "dari dalam" (masyarakat tenis sendiri). Terlebih lagi jika kita melihat materi pemain dengan formasi Wynne Prakusya dan Angelique Widjaja, yang bisa luwes dan tangguh untuk tunggal maupun ganda.
Hampir menjadi rahasia umum, persiapan tim Fed Cup tidaklah maksimal. Semangat kebersamaan misi dan tekad kurang tampak dari tim.
Mengapa demikian?
Pada dasarnya adalah kurangnya dukungan "dari dalam". Semestinya PB Pelti melakukannya jika tak ingin kegagalan terulang kembali di event lainnya. Salah satu di antarnya adalah mengajak atau mencari masukan dari banyak orang tentang persiapan pemain.
Selanjutnya, dari pembasan itu didapat rumusan yang akan menjadi acuan "kontingen kecil" ke medan Piala Federasi atau multi-event lainnya.
Meski tenis merupakan cabang olahraga yang bersifat individu, sehingga penanganannya pun bersifat individu (termasuk untuk persiapan Piala Federasi), namun semestinya di luar persiapan fisik dan teknis, PB Pelti juga harus mampu membuat pihak-pihak yang terkait dengan pemain terlibat, seperti sponsor, pelatih, dan kalau perlu orangtua.
Melibatkan secara aktif dari pihak setiap pemain akan mempermudah PB Pelti mendapatkan dukungan. Misalnya, bisa saja sponsor diajak kerjasama untuk keberangkatan (di luar sponsor yang didapat dari Pelti sendiri).
Hal lain yang perlu dilakukan PB Pelti adalah mencari dukungan dari para mantan pemain. Kita punya banyak mantan pemain Piala Federasi. Selain Suzanna Anggarkusuma, kita juga punya Yayuk Basuki, Irawati Murid, Mimma Chernovita, Liza Andriyani, dan Eny Sulistyowati.
Bahkan melibatkan para pemain veteran, seperti Lanny Kaligis, Lita Sugiarto, Yolanda Soemarno, barangkali akan menjadi langkah yang jitu untuk mengembalikan pamor tenis kita.
Pada saat persiapan ke Guangzhou, nampaknya Yayuk tidak ambil bagian atau lebih tepatnya tidak dilibatkan untuk persiapan ini. Seandainya Yayuk, yang notabene telah 16 tahun membela team event dan dua kali mendapatkan penghargaan ITF atas dedikasinya itu ikut dilibatkan, tentu ia bisa memberikan tambahan masukan. Misalnya sebagai kapten tak bermain.
Mungkin akan banyak pertanyaan, kalau Yayuk dilibatkan, Suzanna bagaimana? Suzanna telah terbukti lebih lama menjadi pelatih dibanding Yayuk. Atas dasar itu, dia bisa dipercaya menjadi penyusun program bersama pelatih petenis anggota tim sekaligus pelaksana persiapannya. Betapa penting melibatkan pelatih para petenis.
Sebaliknya, Yayuk yang dipasang sebagai kapten tim yang ditugasi mendampingi saat pemain tampil di lapangan, yang sekaligus menjadi salah satu "gertakan" bagi lawan, bahwa yang menjadi kapten adalah Yayuk "Bazoka" Basuki.
Cobalah cermati negara-negara lain, yang senantiasa melibatkan mantan pemain terbaiknya untuk tampil sebagai kapten. Paling gampang saja adalah AS, yang menurunkan Billie Jean King untuk mendampingi tim.
Di Piala Federasi, kepentingan nasional harus ditempatkan di urutan paling atas. Prestasi adalah satu-satunya tujuan akhir, sehingga kalau pun harus terjadi "geser-menggeser" posisi, sudah seharusnya disikapi dengan wajar saja demi prestasi yang sewajarnya harus diraih sebuah kontingen.
Seandainya kemarin Yayuk dipasang sebagai kapten Indonesia, apakah lantas kita sudah pasti lolos? Belum tentu juga. Tetapi apa salahnya jika dicoba?
Saya cuma berangan-angan, andai saja Pelti melakukan sosialisasi ke setiap pemain (yunior sekali pun) tentang peraturan baku menjadi anggota tim nasional (Fed Cup, SEA Games, Asian Games, Olimpiade) maka tak akan ada lagi "suara miring" siapa pun yang masuk tim.
Seandainya saja jauh hari sebelum keberangkatan tim terlebih dahulu dilakukan eksibisi yang dikemas secara apik dengan mempertandingkan antar pemain nasional, melibatkan para pemain veteran, dan satu lagi adalah "sponsor", (dalam bayangan saya) pasti akan seru dan kemungkinan akan mendapat dukungan moril dan meteriil.
Seandainya saja, persiapan yang demikian ini dilakukan dan tim pulang dengan kemenangan, pasti pamor tenis akan melambung, sponsor akan antre dan buntutnya, akan banyak turnamen internasional dan lahirnya petenis berprestasi.
Tetapi seandainya pulang dengan kekalahan, meski sudah dilakukan persiapan yang seperti itu, setidaknya masyarakat sudah tahu bahwa usaha yang dilaksanakan memang telah maksimal dan melibatkan banyak pihak.
Saya memang hanya bisa berandai-andai. Namun, "angan-angan" itu bukanlah hal yang mustahil untuk dicoba, bukan? (Amin Pujanto)
Thanks...
 

·
Registered
Joined
·
17,273 Posts
Alright Steveg,

I'll try my best to translate the main point of the article. It basically contains some positive and negative notes in the article.

The positive ones are that Indonesia acknowledge that China is a better team and they got a huge support and advantage by playing in China. Also, even though Indonesia is #1 seeded, and contains a couple of players with better ranking than others, tennis is not decided by that alone, but how the performance of players on court. Of course, all Indonesian will be dissapointed by the results and they will have to wait next year to try promoting to World Group.

The negative ones are that they tried to solve what contributes to the loss. The main one is that how the Indonesian Tennis Organisation (PELTI) should made a better communication to both senior and junior players on the rule to join the national team members. Also, Pelti should have cooperate with the sponsors, coaches, etc to support each players. (NB: I totally agree that Pelti has not worked effectively to support Indonesian tennis players :)). Also, it highlights some notes about the replacement of Liza Andriyani with Diana Julianto at the last minutes before the event started. If it has been planned properly (by doing exhibition eg), such incident will not happen.

It also notes that Yayuk Basuki (the Indonesian tennis queen) should have been involved in the preparation, if possible made her as the non playing Captain. This strategy has been adopted by USA by having Billie Jean King as their captain. (Note: the article also said that Suzanna has done all her best).

I think that's the main points, and if I missed something or translate in the wrong way, plz someone correct it.

Cheers
 
1 - 20 of 24 Posts
Top